Selasa, 15 Januari 2013

Kurasakan jantungku berdegup dengan kencang. Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tapi aku akan berusaha. Tak mungkin aku menyerah begitu saja. Saat ini memang saat-saat yang mendebarkan buatku. Angan-angan menjadi ketua PMR ada di depan mataku. Aku yakin, aku bisa melewati semua tantangan yang bakalan kuhadapi pagi ini...
“Selamat pagi adik-adik yang terpilih. Hari ini merupakan hari yang spesial buat kalian. Aku harap kalian bersungguh-sungguh menjalaninya.” dengan wajah yang bersahabat, Pak Roni menyapa aku dan yang lainnya.
Tapi, sapaan itu malah membuat badanku melemas. Jantungku deg-degan makin cepat. Bulir-bulir keringat bermunculan dari pori-pori keningku. Sesekali aku menyekanya dengan lengan baju. Entah karna cuaca yang panas atau memang karna suasana hati yang sedang tak karuan. Hah, semoga aku bisa melewatinya...

Tugas pertama kali ini adalah mencoreng muka dengan benda apa saja sehingga nampak seperti prajurit yang siap berperang. Waktu yang diberikan cuma lima menit. Setelah menerima instruksi, aku dan kawan-kawan yang lain segera melaksanakan perintah. Semua nampak kebingungan. Begitu juga denganku. Aku berlarian mencari-cari sesuatu yang tak pasti. Tiba-tiba terbesit dalam otakku sebuah wajan penggorengan. Dengan segera aku keluar dari gerbang sekolah. Menghampiri wanita separuh baya yang sedang menata tahu goreng di beberapa nampan kecil. Beliau adalah penjual gorengan yang biasa mangkal di depan sekolah.
“Bu, boleh pinjam wajannya?” tanyaku dengan wajah memelas.
“Ini? Untuk apa?” katanya sambil mengernyitkan dahi. Ia memegangi wajan yang di bagian belakangnya nampak gosong. Untungnya wajan itu sudah dingin. Dengan sigap aku mencolek pantat wajan yang hitam itu dengan jari telunjuk. Lalu mencoreng mukaku sebanyak mungkin. Sekarang aku yakin kalau mukaku nampak seperti prajurit yang tangguh.
Setelah itu, aku berlari menuju Pak Roni yang sedang berdiri di depan tiang bendera. Saat aku tiba di depannya dan di depan teman-teman yang lain, gelak tawa menyambutku. Ada apa gerangan? Ada yang salah denganku?
Yah... ternyata mereka menertawakan ide gilaku. Gara-gara wajan gosong yang kini membuatku nampak seperti “boneka dakocan”. Seketika itu, wajahku memerah tak karuan. Ingin rasanya berlari ke ujung dunia dan tak bertemu lagi dengan mereka semua.
Tiba-tiba Pak Roni merangkul pundakku dan berkata, ”Inilah teman kita yang kreatif! Beri tepuk tangan untuk ide kreatifnya...”
“Plok… plok… plok… plok…”
Semuanya bertepuk tangan untukku. Aku tersipu malu, dan berusaha menundukkan wajahku. Sesekali aku melirik wajah mereka. Ternyata mereka cuma mencoreng wajah dengan spidol besar beberapa garis. Ada juga yang cuma memakai bolpoint, yang mudah di hapus dengan hanya mencuci muka. Hah, bodohnya aku! Malah pakai pantat wajan yang gosong. Kan susah buat ngebersihinnya...
*****
Kali ini tugas yang kedua, yaitu membuat kerajinan dengan bahan bekas yang telah disiapkan oleh Pak Roni. Lagi-lagi aku kebingungan, aku kan bukan anak yang rajin! Mana mungkin aku bisa membuat kerajinan. Kulihat kawan-kawan yang lain, dengan sigap mereka membuat berbagai macam kerajinan. Ada yang membuat tas dari baju bekas, celemek dari karung beras, pigora foto dari kardus, tempat pensil dari kaleng susu, celengan dari gelas aqua, dan masih banyak lagi...
Tapi aku hanya duduk termenung dan memperhatikan mereka. Aku bingung harus membuat apa. Waktu yang diberikan cuma enam puluh menit.
“Ugh, Pak Roni curang! Aku kan cowok, masak disuruh bikin kerajinan!” umpatku.
Setengah jam berlalu, aku masih tetap duduk diposisiku. Aku melihat tukang kebun sekolah menyapu teras ruang guru. Ini kan hari libur, kok Pak Ujang masih bekerja? Yah, masih tetap setia dengan sapu ijuk merah itu. Aku bergegas menghampirinya.
“Pak Ujang, sini kubantu! Biar saya saja yang nyapu!” pintaku.
“Gak deh, Mas! Saya sudah biasa nyapu sendiri.”
“Nggak pa-pa kok!” kataku sambil merebut sapu di tangannya.
Akhirnya Pak Ujang ngalah, dan beliau meninggalkanku yang sedang asyik menyapu. Kalau dipikir-pikir, udah lebih dari setahun aku nggak bantu emakku bersihin rumah. Rasanya kangen deh pegang sapu. Hehe...
Tak terasa sudah sejam. Batas waktu pengumpulan kerajinan telah habis. Dengan lesu, aku menghadap Pak Roni. Aku meminta maaf, karna aku nggak bisa membuat satu pun kerajinan. Tapi, apa yang terjadi...
“Tadi, saya melihatmu membersihkan teras ruang guru, itu adalah salah satu kerajinan. Orang rajin, nggak harus menghasilkan sesuatu. Tapi menjaga lingkungan sekitar agar tetap bersih dan indah merupakan salah satu tindakan yang terpuji. Tenang saja, kamu sudah melewati tugas kedua ini dengan baik kok!” seru Pak Roni. Aku nggak nyangka, ternyata niatku untuk membantu Pak Ujang menjadikanku melewati tugas kedua ini. Alhamdulillah...

                                *****

Sekarang adalah tugas yang ketiga sekaligus yang terakhir, yaitu membantu orang yang sedang berbelanja di pasar. Kebetulan, sekolahku tak jauh dari lokasi pasar tradisional. Aku segera mencari orang yang sedang berbelanja. Kutemukan seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahunan yang sedang menenteng keranjang belanjaan. Keranjangnya nampak kosong, berarti beliau adalah orang yang kucari agar dapat kutolong. Segera kuhampiri beliau dan menyapanya dengan ramah...
“Nek, bolehkah saya bantu berbelanja. Nenek tinggal sebutkan saja apa yang nenek perlukan di pasar ini, saya akan membelikannya...” pintaku.
“Oh, anak yang baik. Tentu saja boleh, ini daftar belanjaan yang harus nenek beli.” kata nenek itu sambil menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan bermacam-macam sayuran dan bumbu dapur.
“Tapi Nek, saya nggak pernah belanja. Saya Bantu membawakan belanjaannya aja ya!” pintaku dengan wajah “cute”. Nenek pun menyetujuinya.
Aku mengiringi langkah nenek menuju kios-kios pedagang. Dengan senang hati, aku membawakan belanjaan nenek, beliau yang menawar dan membayar setiap belanjaan yang kami beli. Hingga suatu hal yang tak disangka itupun terjadi...

“Copeeeeeeeeeet . . .” teriak nenek saat seorang copet merampas dompet di tangan keriputnya. Tanpa basa-basi, aku mengejar copet itu dengan penuh semangat. Entah kenapa tiba-tiba keberanianku muncul di saat yang tepat. Kupercepat lariku dan kudorong badan si copet yang berada pas di depanku. Hingga copet itu tersungkur sambil meringis kesakitan. Ia berusaha bangkit, dan kembali berlari. Dengan kemarahan yang menggebu, kutarik kaos oblong kusamnya dari belakang dengan kasar, sampai ia berhadapan denganku dan meninjukan tangannya ke arah wajahku. Tapi karena sewaktu masih SMP, aku pernah ikut ekskul beladiri, kutangkis tangan si copet sialan itu. Ia geram, dan melotot ke arahku, tanpa basa-basi kutendang alat vitalnya, ia menjerit kesakitan...
“Hahaha... rasain tuh!” kataku sambil ketawa ngakak.
Dengan sigap, kuambil dompet nenek. Si copet berusaha kabur, tapi apa daya, orang – orang di sekitar pasar sudah mengepungnya. Dan terjadilah masa mengeroyok copet itu hingga babak-belur. (Eh, ini tuh sebenernya ngelanggar hak asasi manusia. Tapi, karena aku sebel banget sama tuh copet, aku tak mencegah warga yang masih ngamuk. Biarin aja! Mampus aja sekalian...)

Selang beberapa saat kemudian, aparat datang ke TKP, dan menghentikan masa yang lagi ngamuk. Tangan copet itu diborgol, dan masa masih sempat-sempatnya mencaci-maki copet yang mukanya udah benjol semua itu. (Yah, namanya juga orang Indonesia. Main hakim sendiri gitu!)
Aku kembali menghampiri nenek, beliau tak percaya bahwa aku selamat dari kejadian yang tragis itu...(Weitz, lebbaaay...)
Kuserahkan dompet itu ke nenek. Dan beliau mengucapkan banyak terima kasih padaku. Tak pernah kusangka, nenek itu membuka dompetnya, dan memberiku selembar uang lima puluh ribuan padaku. Belum sempat aku menerimanya, tiba-tiba terdengar suara . . .

“Jon . . . ayo bangun! Udah pagi nih! Ntar kamu telat lagi...” kata Emak.
Aku tersentak, dan memperhatikan sekelilingku, ternyata aku masih di atas kasur.
“Hah?? ternyata tadi hanya mimpi! Sial!!!” umpatku.

                                *****

                                                  

Jumat, 11 Januari 2013