Kurasakan
jantungku berdegup dengan kencang. Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Tapi aku akan berusaha. Tak mungkin aku menyerah begitu saja. Saat ini memang
saat-saat yang mendebarkan buatku. Angan-angan menjadi ketua PMR ada di depan
mataku. Aku yakin, aku bisa melewati semua tantangan yang bakalan kuhadapi pagi
ini...
“Selamat
pagi adik-adik yang terpilih. Hari ini merupakan hari yang spesial buat kalian.
Aku harap kalian bersungguh-sungguh menjalaninya.” dengan wajah yang
bersahabat, Pak Roni menyapa aku dan yang lainnya.
Tapi,
sapaan itu malah membuat badanku melemas. Jantungku deg-degan makin cepat.
Bulir-bulir keringat bermunculan dari pori-pori keningku. Sesekali aku
menyekanya dengan lengan baju. Entah karna cuaca yang panas atau memang karna
suasana hati yang sedang tak karuan. Hah, semoga aku bisa melewatinya...
Tugas
pertama kali ini adalah mencoreng muka dengan benda apa saja sehingga nampak
seperti prajurit yang siap berperang. Waktu yang diberikan cuma lima menit.
Setelah menerima instruksi, aku dan kawan-kawan yang lain segera melaksanakan
perintah. Semua nampak kebingungan. Begitu juga denganku. Aku berlarian
mencari-cari sesuatu yang tak pasti. Tiba-tiba terbesit dalam otakku sebuah
wajan penggorengan. Dengan segera aku keluar dari gerbang sekolah. Menghampiri
wanita separuh baya yang sedang menata tahu goreng di beberapa nampan kecil.
Beliau adalah penjual gorengan yang biasa mangkal di depan sekolah.
“Bu,
boleh pinjam wajannya?” tanyaku dengan wajah memelas.
“Ini?
Untuk apa?” katanya sambil mengernyitkan dahi. Ia memegangi wajan yang di
bagian belakangnya nampak gosong. Untungnya wajan itu sudah dingin. Dengan
sigap aku mencolek pantat wajan yang hitam itu dengan jari telunjuk. Lalu
mencoreng mukaku sebanyak mungkin. Sekarang aku yakin kalau mukaku nampak
seperti prajurit yang tangguh.
Setelah
itu, aku berlari menuju Pak Roni yang sedang berdiri di depan tiang bendera.
Saat aku tiba di depannya dan di depan teman-teman yang lain, gelak tawa
menyambutku. Ada apa gerangan? Ada yang salah denganku?
Yah...
ternyata mereka menertawakan ide gilaku. Gara-gara wajan gosong yang kini
membuatku nampak seperti “boneka dakocan”. Seketika itu, wajahku memerah tak
karuan. Ingin rasanya berlari ke ujung dunia dan tak bertemu lagi dengan mereka
semua.
Tiba-tiba
Pak Roni merangkul pundakku dan berkata, ”Inilah teman kita yang kreatif! Beri
tepuk tangan untuk ide kreatifnya...”
“Plok…
plok… plok… plok…”
Semuanya
bertepuk tangan untukku. Aku tersipu malu, dan berusaha menundukkan wajahku.
Sesekali aku melirik wajah mereka. Ternyata mereka cuma mencoreng wajah dengan
spidol besar beberapa garis. Ada juga yang cuma memakai bolpoint, yang mudah di
hapus dengan hanya mencuci muka. Hah, bodohnya aku! Malah pakai pantat wajan
yang gosong. Kan susah buat ngebersihinnya...
*****
Kali
ini tugas yang kedua, yaitu membuat kerajinan dengan bahan bekas yang telah
disiapkan oleh Pak Roni. Lagi-lagi aku kebingungan, aku kan bukan anak yang
rajin! Mana mungkin aku bisa membuat kerajinan. Kulihat kawan-kawan yang lain,
dengan sigap mereka membuat berbagai macam kerajinan. Ada yang membuat tas dari
baju bekas, celemek dari karung beras, pigora foto dari kardus, tempat pensil
dari kaleng susu, celengan dari gelas aqua, dan masih banyak lagi...
Tapi
aku hanya duduk termenung dan memperhatikan mereka. Aku bingung harus membuat
apa. Waktu yang diberikan cuma enam puluh menit.
“Ugh,
Pak Roni curang! Aku kan cowok, masak disuruh bikin kerajinan!” umpatku.
Setengah
jam berlalu, aku masih tetap duduk diposisiku. Aku melihat tukang kebun sekolah
menyapu teras ruang guru. Ini kan hari libur, kok Pak Ujang masih bekerja? Yah,
masih tetap setia dengan sapu ijuk merah itu. Aku bergegas menghampirinya.
“Pak
Ujang, sini kubantu! Biar saya saja yang nyapu!” pintaku.
“Gak
deh, Mas! Saya sudah biasa nyapu sendiri.”
“Nggak
pa-pa kok!” kataku sambil merebut sapu di tangannya.
Akhirnya
Pak Ujang ngalah, dan beliau meninggalkanku yang sedang asyik menyapu. Kalau
dipikir-pikir, udah lebih dari setahun aku nggak bantu emakku bersihin rumah.
Rasanya kangen deh pegang sapu. Hehe...
Tak
terasa sudah sejam. Batas waktu pengumpulan kerajinan telah habis. Dengan lesu,
aku menghadap Pak Roni. Aku meminta maaf, karna aku nggak bisa membuat satu pun
kerajinan. Tapi, apa yang terjadi...
“Tadi,
saya melihatmu membersihkan teras ruang guru, itu adalah salah satu kerajinan.
Orang rajin, nggak harus menghasilkan sesuatu. Tapi menjaga lingkungan sekitar
agar tetap bersih dan indah merupakan salah satu tindakan yang terpuji. Tenang
saja, kamu sudah melewati tugas kedua ini dengan baik kok!” seru Pak Roni. Aku
nggak nyangka, ternyata niatku untuk membantu Pak Ujang menjadikanku melewati
tugas kedua ini. Alhamdulillah...
*****
Sekarang
adalah tugas yang ketiga sekaligus yang terakhir, yaitu membantu orang yang
sedang berbelanja di pasar. Kebetulan, sekolahku tak jauh dari lokasi pasar
tradisional. Aku segera mencari orang yang sedang berbelanja. Kutemukan seorang
wanita berusia sekitar lima puluh tahunan yang sedang menenteng keranjang
belanjaan. Keranjangnya nampak kosong, berarti beliau adalah orang yang kucari
agar dapat kutolong. Segera kuhampiri beliau dan menyapanya dengan ramah...
“Nek,
bolehkah saya bantu berbelanja. Nenek tinggal sebutkan saja apa yang nenek
perlukan di pasar ini, saya akan membelikannya...” pintaku.
“Oh,
anak yang baik. Tentu saja boleh, ini daftar belanjaan yang harus nenek beli.”
kata nenek itu sambil menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan bermacam-macam
sayuran dan bumbu dapur.
“Tapi
Nek, saya nggak pernah belanja. Saya Bantu membawakan belanjaannya aja ya!”
pintaku dengan wajah “cute”. Nenek pun menyetujuinya.
Aku
mengiringi langkah nenek menuju kios-kios pedagang. Dengan senang hati, aku
membawakan belanjaan nenek, beliau yang menawar dan membayar setiap belanjaan
yang kami beli. Hingga suatu hal yang tak disangka itupun terjadi...
“Copeeeeeeeeeet
. . .” teriak nenek saat seorang copet merampas dompet di tangan keriputnya.
Tanpa basa-basi, aku mengejar copet itu dengan penuh semangat. Entah kenapa
tiba-tiba keberanianku muncul di saat yang tepat. Kupercepat lariku dan
kudorong badan si copet yang berada pas di depanku. Hingga copet itu tersungkur
sambil meringis kesakitan. Ia berusaha bangkit, dan kembali berlari. Dengan
kemarahan yang menggebu, kutarik kaos oblong kusamnya dari belakang dengan
kasar, sampai ia berhadapan denganku dan meninjukan tangannya ke arah wajahku.
Tapi karena sewaktu masih SMP, aku pernah ikut ekskul beladiri, kutangkis
tangan si copet sialan itu. Ia geram, dan melotot ke arahku, tanpa basa-basi
kutendang alat vitalnya, ia menjerit kesakitan...
“Hahaha...
rasain tuh!” kataku sambil ketawa ngakak.
Dengan
sigap, kuambil dompet nenek. Si copet berusaha kabur, tapi apa daya, orang –
orang di sekitar pasar sudah mengepungnya. Dan terjadilah masa mengeroyok copet
itu hingga babak-belur. (Eh, ini tuh sebenernya ngelanggar hak asasi manusia.
Tapi, karena aku sebel banget sama tuh copet, aku tak mencegah warga yang masih
ngamuk. Biarin aja! Mampus aja sekalian...)
Selang
beberapa saat kemudian, aparat datang ke TKP, dan menghentikan masa yang lagi
ngamuk. Tangan copet itu diborgol, dan masa masih sempat-sempatnya mencaci-maki
copet yang mukanya udah benjol semua itu. (Yah, namanya juga orang Indonesia.
Main hakim sendiri gitu!)
Aku
kembali menghampiri nenek, beliau tak percaya bahwa aku selamat dari kejadian
yang tragis itu...(Weitz, lebbaaay...)
Kuserahkan
dompet itu ke nenek. Dan beliau mengucapkan banyak terima kasih padaku. Tak
pernah kusangka, nenek itu membuka dompetnya, dan memberiku selembar uang lima
puluh ribuan padaku. Belum sempat aku menerimanya, tiba-tiba terdengar suara .
. .
“Jon
. . . ayo bangun! Udah pagi nih! Ntar kamu telat lagi...” kata Emak.
Aku
tersentak, dan memperhatikan sekelilingku, ternyata aku masih di atas kasur.
“Hah??
ternyata tadi hanya mimpi! Sial!!!” umpatku.
*****